Jumat, April 16, 2010

Tanjung Priok 140410




Peristiwa bentrokan berdarah di Priok yang kemarin itu beserta dengan dampak ikutannya, memang belum setara dengan peristiwa Priok pada masa peristiwa yang menyebabkan tewasnya Amir Biki 1984, dan juga belumlah sesistemik peristiwa kerusuhan Mei 1998.

Namun dalam satu dasawarsa terakhir, peristiwa Priok yang kemarin itu adalah salah satu peristiwa bentrokan yang tergolong cukup besar dan dramatis.Paling tidak itu dapat terlihat dari jumlah aparat yang dikerahkan beserta dengan peralatannya, maupun dari jumlah massa yang harus dihadapi oleh para aparat.

Militansi dan kemampuan tempur dari massa yang menghadapi aparat juga boleh dibilang
cukup mencengangkan dan mengejutkan. Massa yang tanpa berbekal senjata api ternyata berhasil membuat para aparat menjadi tunggang langgang meninggalkan kendaraan pengendali massa, water canon.

Foto-foto yang bertebaran di internet menunjukkan cukup banyak kendaraan aparat maupun kendaraan lainnya yang terbakar di dalam kerusuhan itu.

Ada juga teori yang mengatakan bahwa bentrokan dipicu oleh para ahli waris mBah Priok dan masyarakat sekitar yang tak merelakan makam itu digusur dan dipindahkan. Bisa jadi teori itu benar, namun rasanya faktor itu hanyalah salah satu faktor dari pemicunya. Akan tetapi bukan faktor satu-satunya yang menyebabkan bentrokan menjadi membesar.

Sehebat apapun pengaruh dari ahli waris mbah Priok, ataupun sekuat apapun ikatan batin masyarakat sekitar terhadap situs petilasan itu, rasanya tak akan membuat bentrokan menjadi sedemikian besar. Mengingat status dan kedudukan makam mBah Priok ini tentu masih kalah kelasnya dengan makam-makam para Wali Songo. Jadi, disamping faktor-faktor itu, ada faktor lain yang menyebabkan eskalasi bentrokan bisa sedemikian besar.


Peristiwa bentrokan berdarah di Priok yang kemarin itu menunjukkan bahwa massa yang
sudah terbakar kemarahannya ternyata dapat melakukan sesuatu yang sungguh tidak dikira dan dinyana. Merebut kendaraan water canon dan kendaraan pengendali kerusuhan yang lainnya.Tanpa ada komando dan tanpa ada desain yang merencanakannya, kumpulan massa yang terprovokasi ternyata mampu membuat haru biru suasana bertindak berani dan nekat.

Aparat negara jg ternyata mampu mengesampingkan hati nurani dan rasa belas kasihannya. Mereka ternyata bisa menjadi brutal dan sadis dalam bertindak menganiaya massa rakyat biasa.

Suasana Batin dan Akumulasi Kekecewaan Masyarakat.

Sesungguhnya tak dapat dikesampingkan adanya faktor lain, yaitu suasana batin masyarakat yang resah diimbuhi dengan adanya akumulasi kekecewaan masyarakat atas keadaannya.

Peristiwa skandal korupsi beserta kasus markus yang dipersepsikan oleh sebagian besar masyarakat sebagai ketidak seriusan pemerintah dalam menanganinya, turut andil membentuk tumpukan kekecewaan di masyarakat.

Suasana kebatinan masyarakat itu juga terbentuk karena ditingkahi juga dengan apa yang mereka rasakan sendiri didalam peri kehidupannnya saat ini.Tak dapat dinafikan bahwa ada segolongan masyarakat yang memang belum mati kelaparan tapi sudah mengalami kesulitan hidup.

Mereka bisa jadi masih bisa makan tiga kali sehari, namun untuk urusan biaya pendidikan mereka sudah kelabakan. Bisa jadi mereka masih bisa berpakaian utuh,namun untuk urusan biaya pengobatan mereka sudah mulai menemui kesulitan.

Disaat kesulitan di peri kehidupan terasa menghimpit, mereka melihat betapa para elit pemimpin negeri seperti terasa sangat mudah menghambur-hamburkan dan mengkorupsi uang negara dalam jumlah yang sangat besar menurut ukuran rakyat biasa.

Masyarakat geram dan gemas namun tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan pencurian atas trilyunan rupiah uang negara oleh elit pemimpinnya yang berlangsung sedemikian vulgar dan sistemik itu. Lalu, golongan masyarakat yang gemas dan geram bisa jadi menjadi iri hati dan cemburu.

Mereka cemburu dan iri hati serta menyesali keadaan mereka yang tak mempunyai kesempatan dan peluang untuk dapat melakukan korupsi sebagaimana yang dapat dilakukan oleh para pemimpin negerinya itu.

Mereka pun menjadi iri hati atas tingkah polah para birokrat dan politisi yang sudah digaji cukup tinggi oleh negara namun tetap tak mampu mengendalikan diri untuk tak melakukan korupsi.

Mereka juga menjadi cemburu lantaran melihat betapa sejahteranya kehidupan para birokrat dan politisi, sedangkan kehidupan rakyat jauh dibawah standar kelayakan hidup.

Inilah barangkali yang tak terdeteksi oleh mereka yang hanya melihat kenyataan masyarakat dari balik jendela mobil mewahnya maupun dari balik jendela ruangan kerjanya yang bersih dan nyaman.

telah diedit dari http://kompasiana.com/bocahndeso

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih Untuk meninggalkan jejak disini