Senin, November 16, 2009

Sodaqoh yang terbaik

Dalam sebuah kisah diceritakan, ketika kaum muslimin sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi perang badar, terjadilah antrian panjang. Mereka adalah pahlawan2 kaum muslimin yang ingin memberikan konstribusi dengan apapun yang mereka miliki. Ada yang membawa emas, pedang, tombak, dan banyak pula yang hanya membawa badan mendaftr sebagai tentara.Ditengah antrian panjang, terlihat seorang nenek tua yang tidak membawa apa-apa. Tidak ada harta yang dapat disumbangkan, sehingga petugas yang menerima sumbangan mendatangi nenek tua ini dan bertanya,

“ Nenek, ini adalah antrian untuk menghadapi perang badar, apa nenek tidak salah antri?”Jawab nenek, “ Wahai anak muda, aku memang tidak memiliki apa-apa. Aku tidak punya harta benda yang dapat aku sedekahkan untuk menghadapi perang badar, bahkan akupun tidak dapat memberikan tenagaku. Yang aku punya hanyalah seutas tali yang panjangnya kurang lebih 40 cm. Wahai anak muda, tolong terima tali ini dan bawalah keperang badar. Inilah harta terbaik yang aku milik.”

Maka ketika perang badar yang begitu dasyat berkecamuk, banyak petinggi-petinggi kafir quraish yang terbunuh.

Seorang diantaranya berhasil ditawan. Tentara muslim kebingungan, bagaimana menjaga tawanan itu sementara Rasulullah memerintahkan tidak boleh membunuh yang sudah menyerah atau tertawan. Maka tali 40 cm pemberian sinenek tua menjadi solusi yang tepat.

Dari segi mata manusia, dari ukuran dunia, apalah artinya seutas tali yang panjangnya 40 cm. Tapi dimata Allah, keikhlasan si nenek tua lebih bermakna sehingga amalnya diangkat Allah begitu tinggi hingga sampai ini kita masih dapat membaca kisahnya.
Dalam bershodaqoh, jika kita ingin mendapat balasan dari Allah bukan saja dari segi kehidupan duniawi, tapi juga balasan dari Allah tempat terhormat sebagaimana yang diberikan Allah kepada nenek tua tadi, kuncinya adalah ikhlas. Hal itu berbeda dengan zakat, ikhlas atau tidak zakat wajib dikeluarkan karena ia adalah kewajiban. Menahan mengeluarkan zakat, berarti kita menahan harta orang lain pada diri kita
Diambil dari newsletter CARE Al-Azhar oleh : Adiwarman A.Karim


2 komentar:

  1. ceritanya menarik, kbar si kecil arai gimana? oia tukeran link dong, link papa arai sudah saya pasang di collegedemocratsatcu.org

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah sehat om bie...malah mw punya adek hehehe...mantap masih exis terus ni..ok nanti dibilangin ayah biar dpasang om.

    BalasHapus

Terima kasih Untuk meninggalkan jejak disini