Selasa, Februari 26, 2008

Dr Siti Fadilah Supari


Dr Siti Fadilah Supari,satu dari sedikit warga dunia
yang keras membela hak-hak negara berkembang di tengah dominasi badan
resmi dunia dan negara adikuasa.

Majalah The Economist London
menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik.

"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi"tulis The Economist (10 Agustus 2006).

Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung
(Avian Influenza/AI) menelan korban di Indonesia pada 2005.
Ia kelabakan. Namun aneh, obat tersebut justru diborong
negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Ini tidak adil, negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa.
Untung saja ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.

Korban terus berjatuhan.
Di saat itu pula, dengan alasan penentuan diagnosis,
badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center(WHO CC)di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.

Perintah itu diikuti SitiFadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium Litbangkes melakukan penelitian.Hasilnya ternyata sama.Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hong Kong?

Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh.


Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat seed virus.Dari seed virus inilah dibuat vaksin.

Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya,yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi.

Siti Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat
negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza
Surveilance Network (GISN) WHO.

Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun.
Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka,dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Siti Fadilah membaca di The Straits Times Singapura,
27 Mei 2006, bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.

Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS.
Di sini, dari 15 grup pneliti hanya ada 4 orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.

Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu,
untuk vaksin atau senjata kimia?

Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu.
Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.

Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006,
WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak
ketertutupan Los Alamos,memujinya.Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi.

Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security,
lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta
pertukaran virus yang adil,transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan: tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM)WHO di Jenewa November lalu, sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Prof Siti Fadilah anak bangsa yang melakukan perlawanan atas ketidakadilan.
Bangsa ini memerlukan banyak orang seperti Siti Fadilah, yang berjuang untuk
keadilan, kadaulatan, dan kesetaraan.

Ia inspirasi untuk bangsa yang bangkit.

HMM ADA JUGA YAH ORANG INDONESIA YG BERANI SAMA LUAR NEGRI GITU....

Republika 13 Februari 2008*
Perlawanan Siti Fadilah Supari
Oleh : Asro Kamal Rokan
Foto : www.liputan6.com

4 komentar:

  1. Masih banyak BERLIAN yang belum digosok...

    BalasHapus
  2. lha ini baru bener lha kalo berani mbok disuruh kesini orang GISN suruh ketemu sama embah, kalu mau minta spesimen ya nanti tak kasih iler-nya embah biar gini ilernya embah ini bisa bikin orang kebal peluru kok...sek tak njaluk pijet sama embah putri dulu yo...

    BalasHapus
  3. BRAVO Indonesia
    dah lama sekali negara ini kehilangan nasionalisme nya
    dan mau begitu aja dikadalin negara2 penjajah itu

    BalasHapus
  4. Kita harus mencontoh beliau dalam menegakkan keadilan dan kebenaran

    BalasHapus

Terima kasih Untuk meninggalkan jejak disini